KRITIK DAN ESAI
KRITIK DAN ESAI
Kritik dan Esai merupakan
materi pembelajaran Bahasa Indonesia tingkat SMA/MA kelas XII. Materi kritik dan Esai yang
akan disajikan didalamnya memuat pengertian kritik dan Esai , struktur kritik
dan Esai, dan contoh kritik dan Esai . Semoga pembahasan ini dapat membantu dan
dapat dijadikan referensi dalam
mengerjakan tugas bahasa indonesia.
Pengertian Kritik Sastra dan Esai
Kritik
dan esai adalah dua jenis tulisan yang hampir sama. Keduanya sama-sama
mengungkapkan pendapat atau argumen. Namun, penulis kritik dan esai haruslah
melakukan analisis dan penilaian secara objektif terlebih dahulu agar dapat
dipercaya.
Kritik
sastra adalah bidang studi sastra untuk menghakimi karya sastra, untuk memberi
penilaian dan keputusan mengenai bermutu atau tidaknya suatu karya sastra yang
sedang dihadapi kritikus. Sedangkan esai adalah karangan yang berisi kupasan
atau tinjauan tentang suatu poko masalah yang berkaitan dengan ilmu
pengetahuan, pendapat, atau ideologi yang disusun secara populer berdasarkan
sudut pandang pribadi penulisnya (bersifat subjektif).
Cara
penulisan esai lebih bebas. Sementara kritik sastra, objek penilaiannya hanya
dunia sastra. Dalam penilaiannya, karya sastra bersifat objektif dan harus
menyertakan alasan dan bukti baik secara langsung maupun tidak langsung.
Berbeda dengan kritik sastra, objek pembahasan esai adalah permasalahan umum
yang bersifat subjektif.
Sebuah
kritik sastra mempunyai beberapa ciri, antara lain:
o Memberikan tanggapan terhadap objek kajian (hasil
karya sastra)
o Memberikan pertimbangan baik dan buruk sebuah karya
sastra
o Bersifat objektif
o Memberikan solusi atau kritik-konstruktif
o Tidak menduga-duga
o Memaparkan penilaian pribadi tanpa memuat ide-ide.
Sedangkan
secara umum, esai memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
o Merupakan prosa. Artinya dalam bentuk komunikasi
tertulis berisi gagasan.
o Singkat. Maksudnya dapat dibaca dengan santai dalam
waktu yang relatif singkat
o Memiliki ciri khas. Seorang penulis esai yang baik
memiliki karakter tulisan yangkhas yang membedakannya dengan tulisan orang
lain.
o Selalu tidak utuh. Artinya penulis memilih segi-segi
yang penting dan menarik dari objek dan subjek yang hendak ditulis.
o Bersifat subjektif.
Struktur Kritik Sastra dan Esai
Kritik
sastra dan esai secara umum memiliki struktur yang sama, yaitu
pendahuluan/orientasi, isi, dan penutup/reorientasi.
Bagian pendahuluan merupakan
bagian yang penting dalam kritik sastra atau esai. Bagian ini menentukan apakah
pembaca akan tertarik untuk meneruskan bacaan tersebut hingga selesai.
Pendahuluan yang menarik tentu akan meningkatkan minat pembaca untuk
menyelesaikan bacaannya. Sebaliknya, pendahuluan yang membosankan akan membuat
pembaca enggan untuk melanjutkan bacaannya. Pada dasarnya, bagian pendahuluan
berisi tentang pengantar yang memadai tentang topik bahasan yang hendak
ditulis. Gagasan yang ditulis dalam paragraf pendahuluan memberikan gambaran
tentang gagasan atau pembahasan yang akan ditulis pada bagian isi. Unsur yang
paling penting dalam paragraf pendahuluan adalah kalimat tesis. Kalimat tesis
merupakan gagasan utama kritik maupun esai yang dinyatakan secara jelas dan
eksplisit. Kalimat tesisi ini berfungsi sebagai pengontrol gagasan yang hendak
disampaikan dalam bagian isi.
Bagian isi merupakan
penjabaran dari gagasan utama yang dinyatakan dalam kalimat tesis. Penjabaran
gagasan utama ini diwujudkan dalam beberapa paragraf. Umumnya terdiri dari
beberapa gagasan utama (minimal dua). Setiap gagasan utama ditulis dan
dijabarkan dalam satu paragraf. Setiap paragraf isi mendiskusikan
gagasan-gagasan yang lebih spesifik dan lebih detail agar argumen lebih
meyakinkan. Gagasan spesifik ini merupakan kalimat pendukung yang berfungsi
sebagai penjelasan yang logis atas argumen yang disampaikan penulis.
Bagian penutup merupakan satu paragraf
simpulan yang dimaksudkan untuk mengakhiri pembahasan topik. Paragraf ini
biasanya berisi rangkuman dari pokok pikiran yang telah disampaikan penulis.
Paragraf penutup juga bisa berupa penegasan atas pendapat yang telah dijabarkan
di bagian isi dengan maksud agar pembaca mengetahui secara persis posisi
penulis atas masalah yang ditulis. Menutup esai dengan paragraf efektif akan
memberikan kesan ketuntasan bagi pembaca sehingga apa yang disampaikan penulis
dapat diterima oleh pembaca.
Dalam
kritik sastra mengandung kritik yang meliputi empat hal, yaitu mendeskripsikan,
menganalisis, menafsirkan, dan menilai.
Deskripsi merupakan tahap kegiatan
memaparkan data apa adanya, misalnya mengklasifikasikan data sebuah cerpen atau
novel berdasarkan urutan cerita, mendeskripsikan nama-nama tokoh, mendata latar
tempat dan waktu, dan mendeskripsikan alur setiap bab atau episode.
Analisis adalah menguraikan unsur-unsur
yang membangun karya sastra dan menarik hubungan antar unsur-unsur tersebut.
Menafsirkan dapat diartikan memperjelas
maksud karya sastra dengan cara:
o memusatkan interpretasi kepada ambiguitas, kias,
atau kegelapan dalam karya sastra,
o memperjelas makna karya sastra dengan jalan
menjelaskan unsur-unsur dan jenis karya sastra. Seorang kritikus yang baik
tidak lantas terpukau terhadap apa yang sedang dinikmati atau dihayatinya,
tetapi dengan kemampuan rasionalnya seorang kritikus harus mampu membuat
penafsiran-penafsiran sehingga karya sastra itu datang secara utuh.
Menilai dapat diartikan menunjukkan nilai
karya sastra dengan bertitik tolak dari analisis dan penafsiran yang telah
dilakukan. Dalam hal ini, penilaian seorang kritikus sangat bergantung pada
aliran-aliran, jenis-jenis, dan dasar-dasar kritik sastra yang dianut.
Sedangkan
dalam esai terkandung opini yang ingin disampaikan yang memenuhi batasan
sebagai berikut:
1.
Opini.
Sebuah kepercayaan yang bukan berdasarkan pada keyakinan mutlak atau
pengetahuan sahih, namun pada sesuatu yang tampaknya benar, valid, atau mungkin
yang ada dalam pikiran seseorang dan apa yang dipikirkan seseorang.
2.
Ujilah
opini Anda dengan definisi di atas untuk menilai apakah Anda telah memiliki
topik esai yang baik. Apakah opini tersebut didasari atas keyakinan mutlak?
Atau pengetahuan yang shahih?
Apakah
Anda dapat membuktikan kebenarannya di atas semua keraguan yang beralasan? Jika
ya, berarti itu bukan opini, tetapi fakta atau sebuah hasil observasi yang
telah diterima secara luas sehingga menjadi sebuah fakta. Fakta harus terlebih
dahulu diubah menjadi sebuah opini sebelum dimunculkan dalam esai. Misalnya,
fakta menunjukkan bahwa jumlah penduduk negara kita sekian ratus juta. Untuk
mengubah fakta tersebut menjadi sebuah opini, tugas Anda adalah menilainya.
Anda bisa menilai bahwa budaya negara kita
berubah karena pertambahan penduduk yang demikian cepat. Dengan membuat sebuah
penilaian, maka Anda telah mengubah fakta menjadi opini. Dengan demikian, Anda
telah memiliki topik esai yang baik.
Contoh Kritik dan Esai
Ideologi Patriarki dalam Cerpen Asma Nadia
Ateng Hidayat Mahasiswa Sastra UPI Bandung
Diterbitkannya kumpulan cerpen Ketika Mas
Gagah Pergi karya Helvy Tiana Rosa (1997) menandai kebangkitan kembali fiksi
Islam Indonesia, setelah beberapa dekade terakhir meredup. Sejarah mencatat
fiksi Islam Indonesia telah berkembang sejak abad ke-18, antara lain, dengan
munculnya Tajussalatin karya Hamzah Fansuri dan Bustanussalatin karya Nuruddin
ar-Raniri.
Sejak tahun 1997 karya fiksi Islam kembali
membumi. Sederetan penulis dan karyanya berhasil mendulang prestasi besar. Di
antara penulis tersebut adalah Fahri Asiza, Gola Gong, Jazimah al Muhyi, dan
Asma Nadia. Salah satu karya Asma Nadia, penulis fiksi Islam yang pernah meraih
penghargaan Adikarya IKAPI 2001, adalah cerpen Cerita Tiga Hari, yang termuat
dalam antologi cerpen Meminang Bidadari (FBA Press, Maret 2005).
Banyak pesan moral dan nilai religius yang
diangkat dalam kumpulan cerpen ini. Termasuk dalam Cerita Tiga Hari yang
mengisahkan kebahagiaan satu keluarga. Cerita yang dikisahkan hanya tiga hari.
Hari pertama, menceritakan saat suami berangkat kerja.
Kepergiannya diiringi tatap istri dan kedua
anaknya penuh bahagia. Hari kedua, menceritakan saat suami pulang kerja sampai
makan malam. Hal ketiga, menceritakan saat suami bekerja.
Ia digoda seorang wanita cantik yang
menumpang di kendaraannya. Adapun pesan moral yang terdapat dalam cerpen ini
adalah peran cinta dan rumah tangga penuh kasih, yang dapat menyingkirkan
besarnya godaan terhadap para suami di luar rumah, saat mereka bekerja.
Terlepas dari misi agung yang diemban
pengarang, apabila kita membaca dengan memposisikan diri sebagai pembaca
perempuan (reading as a women), sebagaimana yang dinyatakan Jonathan Culler,
yaitu adanya kesadaran bahwa ada perbedaan jenis kelamin yang banyak
berpengaruh terhadap kehidupan, budaya, termasuk sastra, kita akan menemukan
adanya gender inekualities atau ketidakadilan gender dalam cerpen ini.
Djajanegara mengemukakan, ketidakadilan
gender tersebut di antaranya dapat dilihat dari peran dan karakter tokoh.
Cerita Tiga Hari mungkin merupakan potret realitas perempuan Indonesia, yang
masih tertindas oleh dominasi laki-laki dengan ideologi patriarkinya.
Dalam cerpen tersebut masih terdapat
pembagian peran, antara peran domestik/tradisional yang dilakukan oleh
perempuan dengan peran publik yang dilakukan oleh laki-laki.
Istri dan dua anaknya mengantar sampai ke
pintu. Wajah-wajah cerah itu yang setiap hari melepasnya pergi.... Istrinya
menyuguhkan segelas teh manis hangat. Itulah petikan yang menunjukkan adanya
peran domestik tokoh istri. Ia beraktivitas hanya dalam lingkungan rumah
tangga, menangani masalah dapur, merawat dan membesarkan anak, dan mengurus
rumah. Berbeda dengan tokoh suami, ia beraktivitas di wilayah publik, bekerja
mencari nafkah untuk menghidupi keluarga. Perhatikan kutipan berikut.
Udara Jakarta yang panas, seharian bekerja
mengitari ibu kota berhadapan dengan rupa-rupa manusia. Kehadiran tokoh istri
tidak lebih hanya menjadi pelayan dan pelengkap kehidupan tokoh suami.
Pembedaan peran domestik dan peran
tradisional tersebut jelas merugikan kaum perempuan, karena hal tersebut sama
sekali tidak ada hubungannya dengan seks atau jenis kelamin. Bukan merupakan
kodrat seorang perempuan untuk mengurusi hal-hal domestik, laki-laki pun bisa
melakukannya.
Perbedaan peran tersebut hanya merupakan
masalah gender, yang dikonstruksi secara sosial dan kultural oleh masyarakat
yang didominasi ideologi patriarki, demikian kata Mansour Fakih.
Selain peran domestik tersebut, perempuan dalam
cerpen ini hanya dijadikan sebagai objek dalam percintaan. Lelaki yang
dipanggil sayang itu tersenyum. Mengecup kening, dan dua pipi istrinya ....
Lalu sun sayang di kening, dan pelukan istri yang menyambutnya.
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa kehadiran
tokoh istri hanya menjadi pemuas kebutuhan laki-laki, baik secara biologis
maupun psikologis. Selain dalam peran tokoh, bias gender dalam cerpen ini dapat
dikaji dalam penokohan. Sambutan hangat yang anehnya justru selalu mengalirkan
hawa dingin di penat tubuhnya....
Jakarta panas, tapi pikiran tentang istri dan
kedua anaknya yang menanti penuh cinta, menyejukkan perasaan. Kutipan tersebut
menunjukkan adanya pencitraan tokoh perempuan dengan stereotipe lembut, sopan,
menyenangkan, penuh kasih sayang, dan taat pada suami.
Tokoh perempuan juga dicitrakan sebagai
makhluk yang lemah, perasa, dan patut untuk dikasihi. Citra tersebut melekat
pada tokoh perempuan cantik yang menumpang mobil tokoh suami: Wajahnya yang
basah dengan air mata, suara isak tertahan di balik sapu tangan yang menutupi
sebagian rupanya. Betul-betul pemandangan yang mengibakan.
Selain lemah dan patut dikasihani, ia pun
dicitrakan dengan karakter jalang, penggoda, dan amoral. Terlihat jelas ketika
ia merayu tokoh suami: Tunggu dulu. Kenapa buru-buru. Mas gak suka dengan saya?
Adanya bias gender dalam penokohan dapat dilihat dengan terang.
Karakter tokoh perempuan sangat berbeda
dengan karakter tokoh laki-laki. Tokoh suami dicitrakan sebagai sosok yang
jujur, soleh, bermoral tinggi, dan menjunjung tinggi nilai-nilai religius:
Perasaannya sendiri tidak enak berduaan di pinggir jalan yang sepi dengan
wanita berpakaian minim ini.
Terdapatnya bias gender dalam cerpen ini
menimbulkan pertanyaan besar di benak pembaca. Kenapa hal tersebut terjadi?
Bukankah Nadia seorang perempuan? Yang seharusnya menjunjung nilai-nilai
feminisme yang memperjuangkan kesetaraan perempuan dan laki-laki. Seperti yang
dilakukan oleh para penulis perempuan lainnya, seperti Fatima Mernissi, Nawalel
Saadawi, Wardah Hafidz, dan Lies Marcoes Natsir.
Ataukah karena pengaruh ideologi Islam yang
ia anut? Benarkah Islam menolak equal right’s movement? Adalah Mahmud Abu
Syukkah, seorang penulis Kuwait yang mencoba menjelaskan hal ini. Menurutnya,
dalam Islam semua manusia kedudukannya sama di sisi Tuhan, baik ia seorang
laki-laki maupun perempuan.
Manusia yang paling baik adalah yang paling
besar ketaatannya kepada-Nya. Bahkan, kalau kita memutar jarum sejarah sampai
kehidupan abad ke-7, justru emansipasi perempuan dalam Islam sudah terjadi pada
masa itu. Ideologi Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad telah mampu membebaskan
kaum perempuan dari penindasan kultur Arab yang mendewakan laki-laki.
Menurut saya, paling tidak ada dua hal yang
menyebabkan terjadinya gender bias dalam cerpen Cerita Tiga Hari itu. Pertama,
karena Nadia terlalu terpaku pada pesan moral dan nilai-nilai religius yang
akan disampaikan, sehingga karyanya terkesan kaku. Hal senada diungkapkan
Rahmadianti (Majalah Annida).
Menurutnya, karya fiksi Islam yang sekarang
sedang membumi terlalu mengedepankan misi dakwah, sehingga aspek estetikanya
kurang tergarap dengan maksimal. Kedua, adanya miss-interpretasi terhadap
sumber-sumber ajaran Islam, yaitu Alquran dan Hadis, yang dijadikan sebagai
landasan moral dan etis dalam menulis sebuah karya.
Dalam Alquran ada ayat yang menyebutkan bahwa
laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan. Dalam Hadis ada yang menyatakan bahwa
istri yang baik adalah yang taat kepada Tuhan dan taat kepada suami.
Kalau kita tidak memahami konteks sosial
politik ketika kedua sumber hukum tersebut diturunkan, maka kita tidak akan
mampu menemukan interpretasi yang tepat terhadap ayat dan hadis tersebut.
Ketika penafsiran kurang tepat, maka dalam realisasinya pun akan terjadi
penyimpangan.
Akhirnya, terlepas dari kelebihan dan
kekurangan yang terdapat dalam cerpen Cerita Tiga Hari, sebuah karya fiksi
Islam tidak cukup hanya memuat pesan moral yang baik dan nilai-nilai religius
yang agung saja. Karena, ternyata kehadirannya kian mengukuhkan bangunan
ideologi patriarki yang selama ini menindas kaum perempuan.
Sumber contoh kritik dan esai:
Tidak ada komentar