CERAMAH
CERAMAH
Ceramah bagi Anda sudah tidak asing lagi. Hampir setiap hari Anda mendengarkan ceramah baik secara langsung di lingkungan sekolah, masyarakat, atau di rumah maupun melalui media elektronik, seperti televisi, radio, atau internet. Begitupun bila Anda menghadiri sebuah acara, pasti Anda akan mendengarkan ceramah, sambutan, atau khotbah.
Tentunya banyak manfaat dari ceramah, sambutan, atau khotbah yang Anda dengarkan, di samping memperoleh informasi pengetahuan dari isi ceramah, sambutan, atau khotbah tersebut. Anda juga dapat belajar tentang cara memberikan ceramah, sambutan, atau khotbah. Siapa tahu, suatu saat Anda diminta untuk memberikan ceramah, sambutan, atau khotbah.
Untuk memperoleh manfaat tersebut, Anda harus mendengarkan ceramah, dengan saksama. Sekarang dengarkan ceramah yang akan dibacakan oleh teman Anda dengan saksama! Sambil mendengarkan, catatlah pokok-pokok isi ceramah tersebut. Kemudian, tulislah pokok-pokok ceramah tersebut ke dalam beberapa kalimat yang efektif dan sampaikan isi ringkasannya secara lisan.
Bacalah teks ceramah di bawah ini!
Bismilahirahmannirohim,
Assalamualaikum W.W.,
Bapak kepala sekolah yang saya hormati, ibu-ibu guru, bapakpapak guru,
serta staf tata usaha yang saya hormati, juga para siswa SMAN 24 Bandung yang
saya banggakan.
Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat
Allah Subhanahuwata’ala, berkat rahmat dan hidayah-Nya, hari ini kita dapat berkumpul untuk
mengikuti seminar “Santun Berbahasa”
Hadirin yang berbahagia,
Pemilihan kata-kata oleh masyarakat
akhir-akhir ini cenderung semakin menurun
kesantunannya dibandingkan dengan
zaman saya dahulu ketika kanak-kanak. Hal tersebut tampak pada ungkapanungkapan
banyak kalangan dalam menyatakan pendapat dan perasaannya, seperti ketika
berdemonstrasi ataupun rapat-rapat umum. Kata-kata mereka kasar atau
bertendensi menyerang. Tentu saja, hal itu sangat menggores hati yang
menerimanya
Gejala yang sama terlihat pula pada penggunaan bahasa oleh para politisi
kita, misalnya ketika melontarkan kritik terhadap kebijakan pemerintah.
Tanggapan-tanggapan mereka terdengar pedas, vulgar, dan beberapa di antaranya
cenderung provokatif. Padahal sebelumnya, pada zaman pemerintahan Orde Baru,
pemakaian bahasa dibingkai secara santun lewat
pemilihan kata yang dihaluskan maknanya
(eufemistis).
Kita pun tentu
gelisah sebagai orang tua. Kita sering menyaksikan kebiasaan berbahasa
anak-anak dan para remaja yang kasar dengan dibumbui sebutan-sebutan
antarsesama yang sangat miris untuk didengar.
Fenomena tersebut
menunjukkan adanya penurunan standar moral, agama, dan tata nilai yang berlaku
dalam masyarakat itu. Ketidaksantunan berkaitan pula dengan rendahnya
penghayatan masyarakat terhadap budayanya sebab kesantunan berbahasa itu tidak
hanya berkaitan dengan ketepatan dalam pemilikan kata ataupun kalimat.
Kesantunan itu berkaitan pula dengan adat pergaulan yang berlaku dalam
masyarakat itu.
Penyebab utamanya
adalah perkembangan masyarakat yang sudah tidak menghiraukan perubahan
nilai-nilai kesantunan dan tata krama dalam suatu masyarakat. Misalnya,
kesantunan (tata krama) yang berlaku pada zaman kerajaan berbeda dengan yang
berlangsung pada masa kemerdekaan, dan
pada masa kini. Kesantunan juga berkaitan dengan tempat: nilai-nilai kesantunan
di kantor berbeda dengan di pasar, di terminal, dan di rumah.
Pergaulan global dan
pertukaran informasi juga membawa pengaruh pada pergeseran budaya, khususnya
berkaitan dengan nilainilai kesantunan itu. Fenomena demikian menyebabkan para
remaja dan anggota masyarakat lainnya gamang dalam berbahasa. Pada akhirnya
mereka memiliki kaidah berbahasa yang mereka anggap bergengsi, tanpa
mengindahkan kaidah bahasa yang sesungguhnya.
Sejalan dengan
perubahan waktu dan tantangan global, banyak hambatan dalam upaya pembelajaran
tata krama berbahasa. Misalnya, tayangan televisi yang bertolak belakang dengan
prinsip tata kehidupan dan tata krama orang Timur. Sementara itu, sekolah juga
kurang memperhatikan kesantunan berbahasa dan lebih mengutamakan kualitas otak
siswa dalam penguasaan iptek.
Selain itu, kesantunan
berbahasa sering pula diabaikan dalam lingkungan keluarga. Padahal, belajar
bahasa sebaiknya dilaksanakan setiap hari agar anak dapat menghayati betul
bahasa yang digunakannya. Anak belajar tata santun berbahasa mulai di
lingkungan keluarga.
Nilai-nilai kesantunan
berbahasa dalam beragama juga merupakan salah satu kewajiban manusia yang
bentuknya berupa perkataan yang lembut dan tidak menyakiti orang lain.
Kesantunan dipadankan dengan konsep
qaulan karima yang berarti ucapan yang lemah lembut, penuh dengan
pemuliaan, penghargaan, pengagungan, dan penghormatan kepada orang lain.
Berbahasa santun juga sama maknanya dengan
qaulan ma’rufa yang berarti berkata-kata yang sesuai dengan nilai-nilai
yang diterima dalam masyarakat penutur.
Oleh karena itu,
pendidikan etika berbahasa memiliki peranan yang sangat penting. Pemerolehan
pendidikan kesantunan berbahasa sangat diperlukan sebagai salah satu syariat
dalam beragama. Dengan kesantunan, dapat tercipta harmonisasi pergaulan dengan
lingkungan sekitar.
Penanaman
kesantunan berbahasa juga sangat berpengaruh positif terhadap kematangan emosi
seseorang. Semakin intens kesantunan berbahasa itu dapat ditanamkan, kematangan
emosi itu akan semakin baik. Aktivitas berbahasa dengan emosi berkaitan erat.
Kemarahan, kesenangan, kesedihan, dan sebagainya tercermin dalam kesantunan dan
ketidaksantunan itu.
Berbahasa santun
seharusnya sudah menjadi suatu tradisi yang dimiliki oleh setiap orang sejak
kecil. Anak perlu dibina dan dididik berbahasa santun. Apabila dibiarkan, tidak
mustahil rasa kesantunan itu akan hilang sehingga anak itu kemudian menjadi
orang yang arogan, kasar, dan kering dari nilai-nilai etika dan agama. Tentu
saja, kondisi itu tidak diharapkan oleh orang tua dan masyarakat manapun.
Demikian yang
dapat saya sampaikan, semoga ceramah ini bermanfaat bagi kita semua dan dapat
menerapkan bahasa dengan santun. Mohon maaf apabila selama saya menyampaikan
ceramah ini ada kata-kata yang tidak berkenan.
Billahitaufikwalhidayah Wassalamu’alaikum W.W.
(Sumber: Buku Bahasa Indonesia Kelas XI, Edisi Revisi 2017. Hlm: 130, dengan penyesuaian)
Setelah Anda menyimak teks ceramah di
atas, mungkin Anda akan mengatakan bahwa teks ceramah di atas sama
seperti teks pidato. Pernyataan tersebut sebenarnya sesuai dengan perjelasan
ceramah dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia V yang menyatakan bahwa “ceramah adalah pidato oleh seseorang di
hadapan banyak pendengar, mengenai suatu hal, pengetahuan, dan sebagainya.”
Untuk lebih jelasnya, silakan Anda telaah pengertian,
unsur-unsur, aspek kebahasaan dalam ceramah, isi informasi aktual yang disajikan dalam
ceramah, isi, struktur, dan kebahasaan dalam ceramah, bagian-bagian penting
yang disajikan dalam ceramah, syarat-syarat berceramah dengan baik, metode
ceramah, pokok-pokok isi ceramah, gaya atau langgam ceramah (pidato), dan mengonstruksi teks ceramah di bawah ini!
1.
Pengertian
Ceramah
Ceramah merupakan penampilan diri seseorang di
hadapaan pendengar untuk menyampaikan isi hati atau buah pikiran dengan
rangkaian kata-kata serta harapan agar pendengar tergugah hati nuraninya dan
tergerak pikirannya. Ceramah dapat disampaikan dalam situasi formal ataupun
nonformal melalui rangkaian kata yang tersusun sistematis dengan bahasa lisan
sebagai media utama yang bertujuan memberi pamahaman atau informasi kepada
pendengar. Ceramah harus disampaikan
dengan rasa percaya diri untuk mempengaruhi pendengar agar mengikuti ajakan
pembicara secara sukarela.
2.
Unsur-Unsur
Ceramah
Unsur-unsur ceramah pada dasarnya terdiri atas tiga bagian penting,
yaitu bagian awal atau pengantar berisi: salam pembuka, ucapan puji sukur,
ucapan penghormatan. Kedua, yaitu bagian utama ceramah terdiri atas
pendahuluan, paparan isi, penutup . Ketiga, yaitu bagian akhir ceramah, berisi:
ucapan terima kasih, ucapan permohonan
maaf, harapan-harapan, dan salam penutup.
3.
Aspek
Kebahasaan dalam Teks Ceramah
Ada beberapa aspek atau ciri kebahasaan dalam teks ceramah:
1. Kalimat
simpleks (tunggal) dan kalimat kompleks (majemuk)
2. Kalimat
deklaratif dan imperatif (persuasif/ajakan)
3. Kata
sapaan: orang kedua atau ketiga , terikat pada adat-istiadat setempat,
kesantunan, dan situasi/kondisi percakapan
·
nama diri (Endang, Tono, Tri)
·
istilah kekerabatan (abang, bapak, ibu, ...)
·
gelar kepangkatan, profesi
·
jabatan ( kapten, profesor, dokter, lurah)
·
kata nama (nona, tuan, sayang)
·
kata nama pelaku (penonton, pendengar)
·
kata ganti persona kedua (anda)
Fungsi sosial:
Dengan mempelajari
aspek kebahasaan dalam ceramah, diharapkan Anda mampu menghormati pendengar dan
mengidentifikasi permasalahan aktual dalam kehidupan sehari-hari untuk disusun
menjadi teks ceramah (pidato).
Bentuk penghormatan (honorific) berkenaan dengan urutan
penyebutan dan penggunaan ungkapan penghormatan untuk orang tertentu.
Urutan penyapaan mencerminkan
penghormatan secara berturut-turut.
Contoh;
Bapak Kepala Sekolah yang saya
hormati,
Bapak dan Ibu Guru yang saya
hormati,
Teman-teman seperjuangan yang saya cintai,
Undangan yang berbahagia
Penggunaan kata ganti
juga mencerminkan kesantunan berbicara, memberikan tingkat kesopanan, dan rasa
hormat yang berbeda.
Contoh:
Dia
pergi lima menit yang lalu.
Beliau
pergi lima menit yang lalu.
Mohon maaf Pak, mohon izin ke belakang.
Mohon maaf Pak, mohon izin ke kamar kecil.
Mohon maaf Pak, mohon izin ke toilet.
Mohon maaf Pak, mohon izin ke WC.
Jenis Teks Ceramah:
1.
Informasi:
Ø Tujuan: menginformasikan, memberitahukan, menjelaskan
Ø Pendengar:
diperlukan keseriusan dan ketertiban karena perhatian terpusat pada pesan
yang akan disampaikan 9 Pembicara:
berbicara jelas, sistematis, tepat.
Ø Contoh:
penyampaian kepala sekolah menjelang UN, pidato menteri
2.
Persuasi:
Ø Tujuan:
meyakinkan pendengar
Ø Pembicara:
dituntut memiliki keterampilan berbicara yang baik karena bertugas mengubah
sikap pendengar (dari tidak setuju menjadi setuju) dan melandaskan pembicaraan
berdasarkan pada argumentasi yang logis dan bertanggung jawab. 9 Contoh:
pidato pemilihan ketua OSIS
3.
Aksi:
Tujuan: menggerakkan,
pencapaian tujuan bersama Pembicara: berwibawa,
tokoh/idola, panutan masyarakat Contoh:
pidato Presiden Soekarno saat menggerakkan rakyat Indonesia agar tetap semangat melawan penjajah
4. Penggolongan Isi
Ceramah (Pidato)
Berdasarkan pada isi
ceramah (pidato), pidato dapat dibedakan menjadi:
A.
Pidato Pembukaan
adalah pidato singkat yang dibawakan oleh pembaca acara atau
mc.
B.
Pidato
pengarahan adalah pidato untuk mengarahkan pada suatu pertemuan.
C.
Pidato sambutan,
yaitu pidato yang disampaikan pada suatu
acara kegiatan atau peristiwa tertentu yang dapat dilakukan oleh beberapa orang
dengan waktu yang terbatas secara bergantian.
D.
Pidato
peresmian adalah pidato yang dilakukan
oleh orang yang berpengaruh untuk meresmikan sesuatu.
E.
Pidato laporan,
yakni pidato yang isinya adalah melaporkan suatu tugas atau kegiatan.
F.
Pidato
pertanggungjawaban adalah pidato yang
berisi suatu laporan pertanggungjawaban.
G.
Pidato memorial,
misalnya, pidato untuk menyambut Hari Kartini, Hari Kemerdekaan.
H.
Pidato
perpisahan, misalnya, pidato perpisahan karena tamat sekolah, perpisahan karena
pensiun, dan sebagainya.
I.
Pidato
penerimaan hadiah, misalnya, piato penerimaan suatu medali kejuaraan olah raga.
J.
Pidato
penyambutan tamu, misalnya, pidato penyambutan tamu kenegaraan.
K.
Pidato
persembahan, misalnya, pidato penyerahan cindera mata kepada tamu.
L.
Pidato
persuasif, misalnya, pidato kampanye partai politik.
M.
Pidato
informatif, misalnya, pidato penyuluhan kepada ibu-ibu PKK.
N.
Pidato
instruktif, misalnya, pidato tentang anjuran untuk membayar pajak.
O.
Pidato
rekreatif, misalnya, pidato acara perkawinan, ulang tahun.
P.
Pidato
kerohanian, misalnya, santapan rohani waktu acara halal bihalal, acara
pengajian.
Q.
Pidato ilmiah,
misalnya, pidato ilmiah dalam acara wisuda.
5.
Struktur
Teks Ceramah
Teks ceramah memiliki struktur yang meliputi bagian pembuka, isi,
dan penutup.
1.
Pembuka
Berupa pengenalan isu, masalah,
ataupun pandangan pembicara tentang topik yang akan dibahasnya. Bagian ini sama
dengan isi dalam teks eksposisi yang disebut dengan isu.
2.
Isi
Berupa rangkaian argumen pembicara berkaitan
dengan pendahuluan atau tesis. Pada bagian ini dikemukakan pula sejumlah fakta
yangmemperkuat argumen argumen pembicara.
3.
Penutup
Berupa penegasan kembali
atas pernyataan-pernyataan sebelumnya.
Berikut contoh analisis
struktur teks ceramah dalam pengantar materi di atas.
|
Struktur Teks
Ceramah
|
Contoh Analisis
|
|
a. Pendahuluan
|
Pemilihan kata-kata oleh masyarakat akhir-akhir ini cenderung
semakin menurun kesantunannya dibandingkan dengan zaman saya dahulu ketika
kanak-kanak. Hal tersebut tampak pada ungkapanungkapan banyak kalangan dalam
menyatakan pendapat dan perasaan-perasaannya, seperti ketika berdemonstrasi
ataupun rapat-rapat umum. Kata-kata mereka kasar (sarkasme), menyerang, dan
tentu saja hal itu sangat menggores hati yang menerimanya.
Bagian itu
mengenalkan permasalahan utama (tesis), yakni tentang menurunnya kesantunan
berbahasa masyarakat.
|
|
b. Isi (Rangkaian
Argumen)
|
Fenomena tersebut menunjukkan adanya penurunan standar moral,
agama, dan tata nilai yang berlaku dalam masyarakat itu. Ketidaksantunan
berkaitan pula dengan rendahnya penghayatan masyarakat terhadap budayanya
sebab kesantunan berbahasa itu tidak hanya berkaitan dengan ketepatan dalam
pemilikan kata ataupun kalimat. Kesantunan itu berkaitan pula dengan adat
pergaulan yang berlaku dalam masyarakat itu.
Teks
tersebut merupakan salah satu bagian dari argumen pembicara
|
|
c.
Penutup
|
Berbahasa santun seharusnya sudah menjadi suatu tradisi yang
dimiliki oleh setiap orang sejak kecil. Anak perlu dibina dan dididik
berbahasa santun. Apabila dibiarkan, tidak mustahil rasa kesantunan itu akan
hilang sehingga anak itu kemudian menjadi orang yang arogan, kasar, dan
kering dari nilai-nilai etika dan agama. Tentu saja, kondisi itu tidak
diharapkan oleh orang tua dan masyarakat manapun
Bagian
tersebut merupakan suatu simpulan, sebagai hasil penalaran dari penjelasan
sebelumnya. Hal ini ditandai oleh kata-kata yang berupa saran-saran yang
disertai pula sejumlah alasan.
|
6.
Menyusun
Bagian-Bagian Penting dari Permasalahan Aktual sebagai Bahan untuk Disajikan
dalam Ceramah
Pada pembahasan ini Anda diarahkan
untuk menentukan aspek-aspek yang akan disunting dalam teks ceramah. Adapun
langkah-langkah penyusunannya yaitu:
menentukan topik dan tujuan, menyusun kerangka ceramah, menyusun teks ceramah
berdasarkan kerangka dengan menggunakan kalimat yang mudah dipahami, dan
menyunting teks ceramah.
1. Menentukan Topik
Beberapa topik yang dapat dijadikan bahan ceramah adalah pengalaman pribadi, hobi dan keterampilan, pengalaman dalam pekerjaan, pelajaran sekolah atau kuliah, pendapat pribadi, peristiwa hangat dan pembicaraan publik, masalah keagamaan, problem pribadi, biografi tokoh terkenal, dan minat khalayak.
2. Merumuskan Tujuan Ceramah
Ada dua macam tujuan yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.
a. Tujuan umum ceramah biasanya dirumuskan dalam tiga hal yaitu memberitahukan (informatif), memengaruhi (persuasif), dan menghibur (rekreatif).
1) Ceramah informatif, ditujukan untuk menambah pengetahuan pendengar. Misalnya, ceramah tentang peranan para pelajar pada masa perang kemerdekaan, posisi Indonesia di kancah internasional.
2) Ceramah persuasif, ditujukan agar pendengar mempercayai, menyetujui, atau bahkan mengikuti ajakan pembicara. Misalnya, ceramah tentang cara-cara hidup sehat dan menjaga kesehatan lingkungan.
3) Ceramah rekreatif, ditujukan agar pendengar merasa terhibur. Oleh karena itu, ceramah ini banyak diwarnai oleh humor, anekdot, ataupun guyonan-guyonan yang memancing tertawa pendengar.
b. Tujuan khusus ialah tujuan yang merupakan rincian dari tujuan umum. Tujuan umum lebih informasional, lebih jelas, dan terukur dalam pencapaiannya.
Berikut contoh hubungan topik, tujuan umum, dan tujuan khusus.
Topik : Keragaman budaya daerah
Tujuan umum : Informatif (memberi tahu)
Tujuan khusus : Pendengar mengetahui bahwa:
1) Setiap daerah memiliki budaya yang khas;
2) Dalam budaya daerah terdapat nilai-nilai kehidupan yang bisa kita petik.
Topik : Manfaat penghijauan
Tujuan umum : Persuasif (mengajak)
Tujuan khusus : 1) Pendengar memperoleh keyakinan tentang manfaat penghijauan.
2) Pendengar mau mengikuti program penghijauan dengan baik.
3. Menyusun Kerangka Ceramah
Kerangka ceramah merupakan rencana yang memuat garis-garis besar materi yang akan diceramahkan. Kerangka ceramah bermanfaat dalam memudahkan penyusunan karangan sehingga karangan menjadi lebih sistematis dan teratur, menghindari timbulnya pengulangan pembahasan, serta membantu pengumpulan data dan sumber-sumber yang diperlukan.
Kerangka ceramah yang baik memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
a. Ceramah meliputi tiga bagian pokok, yaitu pengantar, isi, dan penutup.
b. Maksud ceramah diungkapkan dengan jelas.
c. Setiap bagian dalam kerangka ceramah hanya memiliki satu gagasan.
d. Bagian-bagian dalam kerangka ceramah harus tersusun secara logis.
4. Menyusun Ceramah Berdasarkan Kerangka
Langkah berikutnya adalah mengembangkan kerangka menjadi naskah ceramah yang utuh dan lengkap. Namun bersamaan dengan itu, perlu dilakukan pemahaman dan pengahayatan terhadap bahan-bahan yang ada, yakni dengan jalan:
a. mengkaji bahan secara kritis,
b. meninjau kelayakan bahan dengan khalayak (audiensi),
c. meninjau bahan yang kemungkinan menimbulkan pro dan kontra,
d. menyusun sistematika bahan ceramah, dan
e. menguasai bahan ceramah berdasarkan jalan pikiran yang logis.
Untuk lebih jelas, Anda dapat melakukan
tahapan penulisan ceramah beriku ini.
1.
Membatasi
subjek mencocokkan
waktu yang tersedia, menjaga kesatuan dan
kepaduan ceramah,
2.
Menyusun ide
pokok menurut tahapan urutan alur dasar ceramah x perhatian,
kebutuhan, kepuasan, dan lain-lain.
menurut salah satu pola
pengembangan organisasi teks ceramah, pendapat, alasan, bukti, contoh, perbandingan, ilustrasi, anekdot, humor, dan
lain-lain.
3.
Memasukkan dan
menyusun submateri yang berhubungan di setiap pokok,
4.
Mengisi
materi pendukung yang memperkuat atau
membuktikan ide.
5.
Memeriksa draf
kasar, untuk meyakinkan bahwa subjek telah cukup terekam dan mencerminkan
tujuan ceramah.
7. Syarat-Syarat Berceramah (Berpidato)
Agar seseorang memiliki kemampuan yang memadai
dalam hal ceramah (pidato), orang tersebut harus berpengetahuan luas, berkepribadian baik, jujur dan ikhlas, bijaksana dan sopan
santun, punya keberanian moral, kaya dengan
perbendaharaan kata, berpikir kritis,
meyakini dan menguasai tema pembicaraan, mengenal dan memahami
karakteristik audiens, percaya
diri, bersikap menarik, dan bertanggung jawab.
Selain itu, sebelum
memberikan pidato di depan umum, ada baiknya untuk melakukan persiapan berikut
ini:
Ø Mengenal
wawasan pendengar pidato secara umum
Ø Mengetahui
lama waktu atau durasi pidato yang akan dibawakan
Ø Menyusun
kata-kata yang mudah dipahami dan dimengerti.
Ø Mengetahui
jenis pidato dan tema acara.
Ø Menyiapkan
bahan-bahan dan perlengkapan pidato, dan sebagainya.
8. Metode
Berceramah (Berpidato)
Menurut ada tidaknya
persiapan sesuai dengan cara yang dilakukan waktu persiapan, ada berbagai
metode pidato:
a.
Impromptu (Serta Merta/spontan)
Metode
impromptu/spontan, yaitu metode berpidato dengan berpidato secara spontan baik
dari segi isi maupun bahasa berdasarkan situasi dan kondisi tertentu, misalnya,
berpidato sesuai dengan keadaan tempat, keadaan pendengar, waktu, topik, dan
hajat pada waktu ia berpidato. Pidato jenis ini bisa juga terjadi, apabila Anda menghadiri pesta, tiba-tiba
dipanggil untuk menyampaikan pidato.
Metode
impromptu/spontan dilakukan secara spontan,serta merta dan tanpa persiapan sama
sekali. Ketika ada sebuah acara/hajatan, tamu undangan sudah mulai datang dan
acara akan segera dimulai, MC pun mulai membacakan susunan acara, dan
mempersilakan salah satu pihak tuan rumah yang ditunjuk untuk berpidato. Namun,
ketika dipanggil orang yang ditunjuk ternyata tidak dapat hadir karena ada
sesuatu yang mendesak dan tidak dapat diwakilkan sehingga harus ada orang lain
yang menggantikannya untuk menyampaikan pidato. Dalam situasi seperti inilah
metode impromptu digunakan.
Keuntungan berpidato
impromptu/spontan dapat Lebih mengungkapkan perasaan pembicara, gagasan datang
secara spontan memungkinkan pembicara terus berpikir.
Kerugian berpidato
impromptu/spontan dapat menimbulkan kesimpulan yang mentah mengakibatkan
penyampaian tidak lancar, gagasan yang disampaikan ngawur, dan demam panggung.
b. Manuskrip
Manuskrip atau pidato
dengan naskah, yaitu metode berpidato dengan membaca naskah pidato, misalnya,
dilakukan dalam pidato-pidato resmi. Pidato jenis ini tidak berlaku istilah
‘menyampaikan pidato’, tetapi ‘membacakan pidato’. Manuskrip dibutuhkan dalam
pidato kenegaraan atau oleh tokoh nasional untuk menghindari kesalahan isi
materi yang disampaikan sebab kesalahan sedikit saja dapat menimbulkan
kekacauan nasional.
Pidato menggunakan
naskah dapat kita lihat dalam acara seremonial atau acara-acara resmi lainnya.
Jika dibandingkan dengan metode pidato
impromptu,ekstemporan dan menghafal. Metode menggunakan naskah merupakan
metode yang paling lengkap dan sistematis karena isi pidato telah disusun dan
direncanakan dengan baik sebelum dibacakan. Namun demikian, masih ada saja
kekurangan dari metode pidato ini, diantarnya, yaitu interaksi antara orang
yang berpidato dengan pendengar kurang,
terkesan kaku, dan membosankan karena pembicara lebih terpaku pada naskah.
Keuntungan menggunakan
metode manuskrip, yaitu kata-kata dapat dipilih sebaik-baiknya, pernyataan
dapat dihemat, kefasihan berbicaranya dapat dicapai, tidak ngawur, naskah
manuskrip dapat diperbanyak.
Kerugian menggunakan metode manuskrip, yaitu
komunikasi pendengar akan berkurang karena pembicara tidak berbicara langsung
pada audien. Pembicara tidak dapat melihat pendengar dengan baik dan pembuatan
naskahnya lebih lama.
c. Memoriter
Metode memoriter atau
menghafal, yaitu metode berpidato dengan menghafal isi atau materi pidato lebih
dahulu, kemudian menyampaikan isi pidato tersebut tanpa sebuah naskah. Pidato
ditulis kemudian diingat kata demi kata.
Pidato menggunakan
metode memoriter atau menghafal disampaikan secara keselurahan berdasarkan
teks/naskah yang telah dihafalkan sebelumnya. Apabila pidato yang dihafal
panjang dan topik yang dibahas merupakan topik yang tidak dikuasai pembicara, pembicara harus pintar
berimprovisasi agar pidato tidak tersendat.
Keuntungan metode
memoriter, yaitu kata-kata dapat dipilih sebaikbaiknya sesuai dengan gerak dan
isyarat yang diintegrasikan dengan uraian.
Kerugian metode memoriter, yaitu komunikasi pendengar akan berkurang
karena pembicara beralih pada usaha untuk mengingat kata-kata memerlukan banyak
waktu.
d. Ekstemporan
Metode ekstemporan atau
catatan kecil, yaitu metode berpidato dengan membawa dan melihat butir-butir
pokok isi pidato dalam lembar cerita catatan, lalu menyampaikan isi catatan itu
kepada pendengar dengan ilustrasi bahasa secara spontanitas. pidato sudah
dipersiapkan sebelumnya berupa garis besar dan pokok penunjang pembahasan (supporting points), tetapi pembicara
tidak berusaha mengingatnya kata demi kata.
Pidato ekstemporan
dilakukan dengan mempersiapkan konsep berupa pokok-pokok/garis besar pidato.
Untuk menggunakan metode ini, hendaknya pembicara telah menguasai materi dengan
baik, sehingga pada saat akan menyampaikannya, garis-garis besar pidato yang
telah ada tadi dapat dengan mudah dijabarkan satu-persatu.
Keuntungan metode
ekstemporan, yaitu komunikasi pembicara dengan pendengar lebih baik dan pesan
dapat fleksibel.
Kerugian metode
ekstemporan, yaitu kemungkinan menyimpang dari garis besar kefasihan yang
terhambat karena kesukaran memilih kata-kata.
Seseorang akan mahir
pidato jika ia benar-benar mau belajar dengan sungguh-sungguh. Cara belajar
pidato tersebut dapat ditempuh dengan membaca buku-buku retorik (ilmu yang
mempelajari masalah tutur secara efektif) dan buku-buku pengetahuan umum lain.
Selain itu, mereka harus sering berlatih pidato
karena dangan cara “trial and
error”, seseorang akan makin matang penglamannya. Begitu pula seorang yang
akan tampil berpidato harus benar-benar siap terhadap materi pembicaraan dan
siap pula dari segi fisik maupun mental sehingga diharapkan dalam penampilan
pidato tidak menemukan hambatan-hambatan.
Di dalam mempersiapkan
penampilan pidato, seseorang dapat membuat naskah pidato dengan menggunakan
metode impromptu, pembuatan naskah tak perlu dilakukan karena materi
pembicaraan sudah dipersiapkan dalam benak pembicara lewat belajar secara
bertahun-tahun dengan membaca buku dan belajar dari pengalaman hidup. Ilmu dan
pengalamannya ini akan dipidatokan sesuai dengan situasi pada waktu ia
berpidato. Agar pembicara tak lupa dengan materi pembicaan, biasanya
pembicaraan membawa catatan kecil untuk dilihat sewaktu-waktu ia membutuhkan.
9. Pokok-Pokok Isi Ceramah (Pidato)
Pokok-pokok isi
sambutan/ khotbah, yaitu hal-hal utama atau penting yang terdapat dalam uraian materi sambutan/
khotbah yang disampaikan.
Pokok-pokok isi pidato
harus disampaikan dengan susunan yang
istematis. Pokok-pokok isi pidato tersebut sebagai berikut.
Ø Pembukaan
dengan salam pembuka
Ø Pendahuluan
yang sedikit menggambarkan isi
Ø Isi
atau materi pidato secara sistematis : maksud, tujuan, sasaran, rencana,
langkah, dll.
Ø Penutup
(kesimpulan, saran dan harapan, pesan, salam penutup, dll)
Tidak ada komentar